All stories
Technology5 min read0 viewsBahasa Indonesia

Website Dwibahasa Indonesia–Inggris: Cara Membuatnya agar Terindeks Google

Tombol ganti bahasa saja tidak membuat versi kedua terindeks. Ini cara membangun website dwibahasa yang benar untuk Google.

A
Admin
Website Dwibahasa Indonesia–Inggris: Cara Membuatnya agar Terindeks Google

Banyak perusahaan Indonesia ingin tampil dalam bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus: untuk pelanggan lokal, mitra asing, investor, atau peneliti. Cara yang paling sering dipilih adalah menaruh tombol ganti bahasa di pojok halaman. Masalahnya, tombol itu sering hanya mengubah tampilan di browser, sementara Google tetap hanya melihat satu bahasa di satu alamat. Hasilnya, versi bahasa kedua tidak pernah muncul di hasil pencarian. Panduan ini menjelaskan cara membangun website dwibahasa yang benar-benar terindeks di Google.

Mengapa tombol ganti bahasa saja tidak cukup

Jika kedua bahasa berbagi satu alamat (URL) dan pergantiannya dilakukan di browser setelah halaman dimuat, mesin pencari hanya melihat versi bawaan. Pengunjung yang mencari dalam bahasa lain tidak akan menemukan halaman Anda, karena halaman dalam bahasa itu tidak punya alamat sendiri untuk diindeks.

Aturan dasarnya sederhana: setiap bahasa harus punya alamat sendiri, dan setiap halaman harus menyatakan bahwa ia punya padanan dalam bahasa lain.

Papan petunjuk dengan dua arah menuju dua versi website, menggambarkan struktur URL per bahasaPapan petunjuk dengan dua arah menuju dua versi website, menggambarkan struktur URL per bahasa

Pilih struktur URL: subdirektori, subdomain, atau domain terpisah

StrukturContohKelebihanCatatan
Subdirektorisitus.com/id/layananOtoritas domain terpusat, paling mudah dipeliharaPilihan yang paling umum untuk perusahaan menengah
Subdomainid.situs.comPemisahan teknis lebih longgarBiasanya dinilai terpisah dari domain utama
Domain terpisahsitus.co.id dan situs.comSinyal lokal yang kuat per negaraBeban pemeliharaan dan pembangunan otoritas ganda

Untuk sebagian besar bisnis, subdirektori adalah titik awal yang paling masuk akal. Satu bahasa bisa tetap berada di alamat utama, dan bahasa lain di bawah awalan seperti

/id
.

Butuh bantuan profesional?Butuh website atau aplikasi yang terhubung ke sistem Anda?Lihat jasa pembuatan website

Atribut hreflang: memberi tahu Google padanan bahasa

Atribut

hreflang
menjelaskan kepada mesin pencari bahwa dua halaman adalah versi bahasa dari konten yang sama. Contohnya untuk halaman layanan:

<link rel="alternate" hreflang="en" href="https://situs.com/services" />
<link rel="alternate" hreflang="id" href="https://situs.com/id/layanan" />
<link rel="alternate" hreflang="x-default" href="https://situs.com/services" />
  • Harus timbal balik. Halaman Inggris menunjuk ke halaman Indonesia, dan halaman Indonesia menunjuk balik.
  • Sertakan diri sendiri. Setiap halaman mencantumkan hreflang untuk bahasanya sendiri.
  • x-default menandai versi cadangan untuk pengguna yang bahasanya tidak ada dalam daftar.

Canonical: satu alamat resmi per bahasa

Tag canonical di setiap halaman sebaiknya menunjuk ke alamat halaman itu sendiri, bukan ke versi bahasa lain. Menunjuk canonical dari halaman Indonesia ke halaman Inggris akan memberi tahu Google bahwa halaman Indonesia hanyalah salinan, sehingga ia dilewati dari indeks.

Atribut lang pada tag HTML

Setel

<html lang="id">
atau
lang="en"
sesuai bahasa halaman. Google menentukan bahasa terutama dari isi halaman, tetapi atribut ini tetap penting untuk pembaca layar, aksesibilitas, dan mesin pencari atau alat lain yang membacanya.

Sitemap dengan alternatif bahasa

Selain tag di setiap halaman, Anda bisa mencantumkan alternatif bahasa di sitemap. Setiap URL memuat daftar padanannya, sehingga Google menemukan hubungan antarbahasa tanpa harus merayapi tiap halaman satu per satu. Ini sangat membantu untuk situs dengan banyak halaman.

Kaca pembesar di atas jaringan halaman website, menggambarkan pemeriksaan indeks di GoogleKaca pembesar di atas jaringan halaman website, menggambarkan pemeriksaan indeks di Google

Jangan paksa pengalihan berdasarkan IP atau bahasa browser

Mengarahkan pengunjung secara otomatis ke bahasa tertentu berdasarkan lokasi atau pengaturan browser terdengar membantu, tetapi bermasalah: crawler mesin pencari sering datang dari lokasi dan pengaturan yang tidak mewakili pengunjung Anda, sehingga mungkin tidak pernah melihat salah satu versi. Alternatif yang lebih aman adalah menampilkan saran bahasa yang bisa diabaikan pengguna, dan membiarkan setiap alamat tetap dapat dibuka langsung.

Terjemahkan semuanya, bukan hanya isi halaman

Website dwibahasa yang baik menerjemahkan lebih dari paragraf di tengah halaman:

  • Judul halaman (title) dan deskripsi meta, yang muncul di hasil pencarian
  • Judul H1 dan H2 serta teks tautan di menu dan footer
  • Teks alternatif gambar dan keterangan
  • Data terstruktur seperti FAQ dan breadcrumb
  • Slug URL yang memakai kata kunci dalam bahasa masing-masing, misalnya
    /id/layanan-penerjemah
    dan bukan
    /id/translation

Halaman yang hanya sebagian diterjemahkan memberi pengalaman buruk dan sinyal yang membingungkan bagi mesin pencari.

Contoh struktur URL untuk satu situs

Berikut contoh pemetaan satu halaman layanan dan halaman utama dengan slug yang sesuai bahasanya:

HalamanAlamat bahasa InggrisAlamat bahasa Indonesia
Berandasitus.com/situs.com/id
Penerjemahansitus.com/translation-servicessitus.com/id/jasa-penerjemah
Pembuatan websitesitus.com/web-developmentsitus.com/id/jasa-pembuatan-website

Slug dalam bahasa Indonesia membantu halaman muncul untuk kata kunci yang benar-benar diketik pengguna, seperti "jasa penerjemah", bukan padanan Inggrisnya.

Cara memeriksa hasilnya di Google Search Console

  1. Kirim sitemap yang memuat kedua versi bahasa.
  2. Periksa satu URL tiap bahasa dengan alat Inspeksi URL untuk memastikan Google melihat versi yang benar dan canonical yang sesuai.
  3. Pantau laporan Halaman untuk melihat apakah URL berawalan
    /id
    terindeks atau dikecualikan, beserta alasannya.
  4. Lihat laporan Performa dan filter halaman berawalan
    /id
    untuk melihat kueri berbahasa Indonesia yang mulai muncul.
  5. Beri waktu beberapa minggu. Halaman baru perlu dirayapi dan dinilai sebelum peringkat stabil.

Checklist sebelum peluncuran

  1. Setiap bahasa punya alamat sendiri yang bisa dibuka langsung.
  2. Setiap halaman punya hreflang timbal balik dan x-default.
  3. Canonical menunjuk ke alamat halaman itu sendiri.
  4. Atribut
    lang
    sesuai bahasa halaman.
  5. Sitemap memuat kedua versi beserta alternatifnya.
  6. Title, deskripsi, judul, alt gambar, dan data terstruktur sudah diterjemahkan.
  7. Tidak ada pengalihan otomatis yang memaksa bahasa.
  8. Tombol ganti bahasa berupa tautan biasa ke alamat padanan.

Kesalahan yang paling sering terjadi

  • Hanya menerjemahkan tampilan di browser tanpa alamat terpisah.
  • Menunjuk canonical ke bahasa lain sehingga versi kedua tidak terindeks.
  • Hreflang satu arah yang diabaikan Google.
  • Menerjemahkan konten tetapi membiarkan title dan meta tetap satu bahasa.
  • Memaksa bahasa lewat deteksi lokasi.

Contoh dari situs kami sendiri

Kami menerapkan pendekatan ini di situs Xerpihan: setiap halaman layanan punya alamat dalam bahasa Inggris dan versi Indonesia di bawah

/id
dengan slug berbahasa Indonesia, lengkap dengan hreflang timbal balik, canonical per bahasa, dan sitemap dengan alternatif bahasa. Bila Anda membutuhkan website dwibahasa yang dibangun dengan benar sejak awal, lihat jasa pembuatan website dan aplikasi di Jogja.

Pertanyaan umum tentang website dwibahasa

Apakah menerjemahkan dengan plugin atau Google Translate cukup?

Terjemahan otomatis di browser tidak membuat alamat terpisah yang bisa diindeks. Terjemahan yang disimpan sebagai halaman dengan alamat sendiri dan ditinjau manusia memberi hasil yang jauh lebih baik.

Apakah konten ganda dalam dua bahasa dianggap duplikat?

Tidak, selama kedua versi benar-benar dalam bahasa berbeda dan dihubungkan dengan hreflang. Google memahami bahwa keduanya ditujukan untuk audiens yang berbeda.

Bagaimana jika sebagian halaman hanya ada dalam satu bahasa?

Tidak masalah. Cantumkan hreflang hanya untuk halaman yang punya padanan, dan biarkan halaman lain berdiri sendiri.

Berapa lama sampai versi bahasa kedua muncul di Google?

Bergantung pada seberapa cepat Google merayapi situs Anda. Mengirim sitemap dan memastikan semua halaman bisa dijangkau lewat tautan biasa mempercepat prosesnya.