Thailand atau Tailan? Menguak Perubahan Ejaan, Standarisasi Bahasa, dan Evolusi Nama Negara
Dunia linguistik Indonesia sedang mengalami pergeseran dalam penulisan nama geografi. Mengapa Thailand kini sering disebut Tailan? Simak analisis mendalam mengenai standarisasi bahasa dan penyesuaian nama negara di sini.

Pendahuluan: Debat Ejaan di Era Globalisasi
Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna bahasa Indonesia sering kali dikejutkan dengan perubahan ejaan pada nama-nama negara yang sudah sangat akrab di telinga. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah pergeseran dari penulisan Thailand atau Tailan. Bagi sebagian orang, penulisan 'Thailand' terasa lebih internasional dan modern, sementara 'Tailan' terdengar asing atau bahkan dianggap sebagai kesalahan ketik. Namun, di balik perubahan ini, terdapat proses standarisasi bahasa yang sangat kompleks dan mendalam.
Sebagai platform yang berfokus pada teknologi dan layanan bahasa, Xerpihan memandang fenomena ini bukan sekadar masalah teknis penulisan, melainkan cerminan dari bagaimana sebuah bangsa mengadopsi identitas asing ke dalam struktur linguistiknya sendiri. Artikel ini akan membedah secara tuntas mengapa perubahan ini terjadi, bagaimana peran Badan Bahasa dalam menetapkan aturan, serta tren global dalam penyesuaian nama negara.
Sejarah Nama Thailand dalam Konteks Indonesia
Sebelum kita memahami mengapa ada dorongan untuk menuliskan 'Tailan', kita perlu menengok kembali sejarah penggunaan nama negara Gajah Putih ini di Indonesia. Pada masa lampau, masyarakat Indonesia lebih mengenal negara ini dengan sebutan Muangthai. Nama ini merujuk pada kata 'Muang' yang berarti negara atau wilayah, dan 'Thai' yang merujuk pada etnis dominan di sana.
Seiring dengan meningkatnya interaksi diplomatik dan pengaruh bahasa Inggris sebagai lingua franca, istilah 'Thailand' mulai mendominasi literatur, berita, dan peta di Indonesia. Penulisan ini mengambil langsung dari bahasa Inggris. Namun, secara fonetik dan morfologi, penulisan 'Thailand' sebenarnya menyimpan tantangan tersendiri bagi sistem ejaan bahasa Indonesia yang mengutamakan konsistensi antara tulisan dan pengucapan.

Mengapa Menjadi 'Tailan'? Alasan Linguistik dan Fonotaktik
Salah satu alasan utama di balik munculnya varian 'Tailan' adalah aturan penyerapan unsur asing ke dalam bahasa Indonesia. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang kini telah diperbarui kembali menjadi EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Edisi V, terdapat prinsip-prinsip penyesuaian ejaan unsur asing.
1. Penghilangan Huruf 'h' pada Gugus Konsonan 'th'
Dalam bahasa Indonesia, bunyi aspiratif seperti 'th' dalam 'Thailand' tidak dikenal secara fungsional dalam sistem fonetik standar. Berbeda dengan bahasa Inggris di mana 'th' bisa berbunyi dental frikatif, dalam bahasa Indonesia, huruf 'h' setelah 't' sering kali dianggap lewah (redundant) jika tidak mewakili bunyi tertentu yang diakui. Oleh karena itu, dalam proses pengindonesiaan yang murni, 'th' sering kali disederhanakan menjadi 't'. Contoh lain adalah kata 'theory' menjadi 'teori', bukan 'theori'.
2. Penyesuaian Akhiran '-land' menjadi '-lan'
Kata 'land' dalam bahasa Inggris berarti tanah atau negeri. Secara linguistik, bahasa Indonesia cenderung menyerap kata sesuai dengan cara pengucapannya atau menyederhanakan kluster konsonan di akhir kata. Akhiran 'nd' dalam 'land' sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Indonesia tanpa menambahkan vokal bantu. Dengan demikian, 'Tailan' dianggap lebih sesuai dengan struktur fonotaktik (aturan kombinasi bunyi) bahasa Indonesia.
3. Konsistensi Ejaan Fonetik
Prinsip utama bahasa Indonesia adalah 'apa yang tertulis, itulah yang dibaca'. Dengan menuliskan 'Thailand', sering kali terjadi ketidakkonsistenan bagi pembelajar bahasa. Apakah dibaca 'Ta-i-land' (sesuai tulisan) atau 'Tai-len' (sesuai bahasa Inggris)? Dengan standarisasi menjadi 'Tailan', keraguan tersebut dihilangkan karena cara baca dan cara tulisnya selaras secara sempurna.
Standarisasi Bahasa: Peran Badan Bahasa dan Kemlu
Proses penyesuaian nama negara tidak dilakukan secara sembarangan. Di Indonesia, terdapat sinergi antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) di bawah Kemendikbudristek dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Badan Bahasa bertugas secara teknis linguistik, sementara Kemlu mempertimbangkan aspek diplomasi dan protokol internasional.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa melihat bagaimana entri-entri ini dikelola. Saat ini, 'Thailand' masih sering digunakan dalam konteks resmi kenegaraan karena menghormati nama diri (proper name) yang didaftarkan di PBB. Namun, dalam konteks akademis dan standarisasi bahasa yang lebih ketat, bentuk 'Tailan' mulai diperkenalkan sebagai bentuk yang lebih 'Indonesia'.

Fenomena Global: Eksosnim vs Endonim
Perdebatan antara thailand atau tailan sebenarnya adalah bagian dari fenomena global mengenai exonyms (nama yang diberikan oleh pihak luar) dan endonyms (nama yang digunakan oleh penduduk asli negara tersebut).
- Turkiye: Baru-baru ini, Turki meminta dunia internasional untuk menggunakan 'Türkiye' alih-alih 'Turkey'. Indonesia pun menyesuaikan penyebutannya menjadi Turkiye dalam dokumen resmi.
- Tiongkok: Indonesia melakukan perubahan besar dari 'Cina' menjadi 'Tiongkok' untuk menghormati preferensi historis dan budaya, serta menghindari konotasi negatif tertentu.
- Belanda: Kita menyebutnya 'Belanda' (dari bahasa Portugis 'Holanda'), sementara orang internasional mengenalnya sebagai 'The Netherlands' dan mereka sendiri menyebutnya 'Nederland'.
Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan politis. Penulisan nama negara sering kali merupakan hasil dari negosiasi antara sejarah, identitas nasional, dan kemudahan komunikasi internasional.
Dampak Perubahan Ejaan terhadap Penulisan Digital dan SEO
Bagi praktisi konten dan teknologi seperti kami di Xerpihan, perubahan dari 'Thailand' ke 'Tailan' membawa dampak signifikan dalam dunia digital. Bagaimana mesin pencari seperti Google menangani perbedaan ini?
Saat ini, algoritma pencarian sudah cukup cerdas untuk memahami bahwa 'Thailand' dan 'Tailan' merujuk pada entitas yang sama. Namun, dari sisi standarisasi bahasa, inkonsistensi dapat membingungkan pengguna. Jika sebuah media massa menggunakan 'Tailan' sementara media lain menggunakan 'Thailand', otoritas informasi bisa terdampak. Oleh karena itu, penggunaan kata kunci yang mencakup kedua variasi tersebut sangat penting dalam strategi SEO untuk memastikan konten tetap relevan bagi audiens yang menggunakan istilah berbeda.
Tabel Perbandingan Penulisan Negara
- Inggris: Thailand | Resmi Indonesia: Thailand | Linguistik Indonesia: Tailan
- Inggris: Turkey | Resmi Indonesia: Turkiye | Linguistik Indonesia: Turkiye
- Inggris: Netherlands | Resmi Indonesia: Belanda | Linguistik Indonesia: Belanda
- Inggris: Egypt | Resmi Indonesia: Mesir | Linguistik Indonesia: Mesir

Langkah-Langkah Menghadapi Perubahan Bahasa
Sebagai masyarakat yang terpelajar, bagaimana kita harus bersikap terhadap perubahan dari thailand atau tailan? Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil:
- Ikuti Perkembangan KBBI: KBBI adalah rujukan utama. Gunakan versi daring atau aplikasi untuk memeriksa kata baku terbaru.
- Sesuaikan dengan Konteks: Jika menulis dokumen diplomatik atau formal internasional, gunakan 'Thailand' sesuai konvensi PBB. Namun, dalam penulisan sastra atau artikel yang menjunjung tinggi kaidah bahasa Indonesia murni, 'Tailan' bisa menjadi pilihan yang lebih berkarakter.
- Edukasi Diri mengenai Etimologi: Memahami asal-usul kata akan membantu kita tidak sekadar 'ikut-ikutan', tetapi mengerti esensi dari standarisasi tersebut.
- Konsistensi dalam Branding: Bagi bisnis, pilihlah satu gaya penulisan dan gunakan secara konsisten di seluruh platform digital untuk menjaga profesionalitas.
Kesimpulan: Bahasa yang Terus Bertumbuh
Perubahan penulisan Thailand menjadi Tailan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bagian dari proses evolusi bahasa Indonesia menuju kemandirian linguistik. Dengan melakukan penyesuaian nama negara, bahasa Indonesia berusaha untuk menjadi lebih sistematis, logis, dan mudah dipelajari oleh penutur asli maupun asing.
Standarisasi bahasa adalah upaya untuk merawat identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Meskipun transisi ini membutuhkan waktu untuk diterima sepenuhnya oleh masyarakat luas, pemahaman akan alasan di baliknya—mulai dari fonotaktik hingga diplomasi—sangatlah penting. Mari terus mencintai bahasa Indonesia dengan menggunakan ejaan yang tepat dan terus memperbarui pengetahuan kita tentang perkembangan bahasa di era teknologi ini.


